18/05/2012

restless

These few days (?weeks) there is an unrest, deep inside. 

The ability to lose myself in thoughts, while apparently doing nothing.
The ability to fly to the hills and stars while watching the world pass by the bus or car window during travel.
The ability to be contented with the beautiful evening sky as I am walking home from work, and feel my troubles dissolve in the wind.

Have I lost it?


I texted my sister at random one evening,
"I feel restless. A restlessness that tells me I want to travel ... to walk, to ride buses and trains.. To seek my own company."

To wish the impish girl replied.

"Perabih HO dulu."

Ceh.

I like to think of myself as a free spirit. Walls and wheels cannot restrain me. If I can't physically travel, I will make the journey in mind. Music tends to speed up the process and introduce new places. If the mind finds itself sluggish, the fingers will write the words necessary to purge it of clots and clogging debris. There were multiple times when I would feel restless, then spend an hour or so writing, and came out of the exercise feeling refreshed. Worse come to the worse, I will sleep, and dreams that visit my sleep are usually vivid, dreams that feel like second lives, and I woke up fascinated.

Lately, altogether with some spiritual refurbishments I was attempting, the soul suddenly (well not actually that sudden - I think it is a gradual process, acutely exacerbated by the aforesaid pursuit) went into "this-world-is-narrow-and-suffocating" mode. I started to feel uneasy, restricted by the everyday routine, something struggling inside my chest - which at times feel physically tightened - wanting out.

The mind failed to launch satisfactorily, and of course it failed to sail smoothly, when I tried to go into my usual mental excursions. Travel in car or bus or plane suddenly feels boring, surprisingly, I felt like I don't have anything to do to kill the time. Writing poetry or generating stories in my head cease to feel as effortless as it used to be.

While I am happily working in my wards, caring for my patients, reciting figures and facts to satisfy my superiors (moreso my own desire for perfection), there is a discontent that is stirring inside. The day-to-day routine feels mundane. Yes, I found solace in prayer and reciting the Quran and zikr, which is when the mind and heart were at peace, loving and feeling the Love, but I am not yet able to maintain that state of mind continuously.

There is a discontent inside. Perhaps this is what Paulo Coelho felt when he said in his autobiographical novel, Aleph, that he is suffering a 'spiritual stagnation'. The remedy, according to him, was to travel, and let life unravel its secrets to him throughout the journey.

I have always believed and practiced the wisdom. I travelled to look for peace, to find answers, to meet those who matter for me, to run away, to seek shelter. Most of those journeys are done solo, or with the company of selected important persons. And indeed, even if I did not find exactly what I am searching for, I will not return home empty-handed. Life, indeed, with the grace, mercy and protection of Allah SWT, revealed its wisdom endlessly.

Now I can't travel in physical, not that much, and my mind- and soul - is unable to take flight. Even to write now feels like a chore. I hope this is but a transformational period, from which I shall emerge afresh, a better person.

Lord, deliver me.

09/04/2012

sejak akhir-akhir ini aku rasa seperti emily dickinson

semalam,

ada dua orang pesakit perempuan
seorang muda, seorang tua
kedua-duanya ada penyakit yang sama
cuma kesannya berbeza-beza.

yang muda OK.

tapi tentang yang tua,
kata doktor pakar

"You know kan, there's nothing we can do for her. Her liver's gone."

dia ada splenomegaly, tak ada hepatomegaly,
of course sebab cirrhosis.

for a not very brief moment (until now, actually)

I feel confronted
by my own mortality.

tak adalah takut sangat pun,
but it's a sobering thought.

=)

05/04/2012

jujur pada waktu malam hujan

(ketika ini aku teringat kepada laman LiveJournal yang pernah aku guna dulu - setiap entri akan ada ruang untuk melodi apa yang meneman ketika menulis, emosi apa yang menujah kamu tatkala menulis)

Tapi sekejap saja aku berpetualang ke sana, sekejap saja, aku kembali kepada Blogger semula.

Mungkin kerana sudah lama bermain dengan Blogger, sudah pandai dengan widget gadget segala, design yang mudah-mudah, dan malas mau belajar-belajar guna platform lain.

Selama 4-5 bulan aku mula bekerja, aku amat jarang menggunakan laptop. Aku tinggal di kuarters hospital, tiada internet, dan keypad netbook rosak. External keypad murah yang kubeli berfungsi baik - cuma kelajuan menaipku yang >90patahkataseminit itu tak dapat dimanfaatkan dengan kekunci plastik lembik yang perlu ditekan satu-satu, tergolek-golek di bawah jari. Sabarku tak cukup. Ideaku lari, tak sempat jari yang menaip perlahan untuk mengejar. Aku tak dapat menulis dan aku malas menulis.

Masa-masa terluang, aku membaca, membaca, dan membaca. Sesekali aku menulis dalam diari, atau mencatat nota panjang lewat Facebook yang diakses dengan smartphone.

Baru-baru ini alhamdulillah aku baru membeli netbook baru. Tidak mahal, tidak canggih, tapi memadailah untuk aku melayari internet melalui mobile broadband, dan paling paling penting, memudahkan aku menulis semula.

Apabila menulis, maka jam-jam berjalan laju ke arah dinihari tanpa aku sedar. Jam satu, jam dua, aku masih di depan komputer. Silih berganti menatap nota perubatan dan menulis puisi dan menulis cerpen. Duduk di tepi tingkap, sambil daunnya kubuka, langsir diselak untuk mengalu-alukan masuk angin malam. Aku di tingkat empat, tidak ada siapa-siapa yang mampu (kalaupun mahu) mengintai.

Aku baru sedar, rupa-rupanya, hampir tiap-tiap dinihari, menjelang jam dua pagi, hujan akan turun menderu. Tidak lama, tidak lebat, tetapi hujan tetap turun. Berderai, mengurai dari langit nan tinggi. Sesekali, kilat memancar, mencabar lampu stadium yang mengotorkan angkasa supaya nyah berlalu, biarkan bulan dan bintang dan halilintar menghidupkan malam, berzikir bersama hujan dan angin dan awan.

Aku menjengah keluar, butir-butir hujan hinggap ke wajah, aroma dinihari bersih meruap memenuhkan hati dengan syukur. Hujan menyimbah aspal, percikannya beriak-riak, membentuk kabus halus berapungan. Guruh sesekali menderam garang, merdu pada pendengaranku. Daun-daun palma yang bergoyang-goyang di luar jendela menguit-nguit aku untuk terus menghirup harumnya angin malam bercampur titis hujan.

Hujan adalah waktu rahmat dilimpahkan Tuhan, waktu untuk menadah tangan berdoa.

Banyak yang aku mahu doakan, sebab aku seperti orang lain juga, hamba Tuhan yang cuma punya Tuhan untuk digantungkan semua harapan.

Semua harapan.

Semua harapan.

Kalaulah awak tahu, semua yang ingin saya luahkan, semua yang ingin saya ucapkan, semua yang saya doakan.

Semua yang saya simpan, tidak mampu pun untuk saya puisikan, apatah lagi luahkan untuk satu alam. Semua rasa yang saya tunggu waktunya Tuhan izinkan saya curahkan kepada yang berhak, yang mungkin saja bukan awak. Jadi saya harus simpan, harus jaga. Walaupun saya rasa selalu kalah.

Saya tak tahu masih bersihkah rasa yang saya simpan ini.

Hujan makin reda. Oh, dah reda.

Aku sempat berdoa beberapa baris.

Pada waktu mustajab doa, ketika aku mau memohon untuk dianugerahkan teman yang soleh, ketika itu juga aku teringat betapa tidak solehahnya aku, dan terus, aku jadi malu kepada Tuhan, dan seringkali pula aku menukar haluan, memohon benda-benda lain, bermacam-macam benda lain, sungguh-sungguh meminta bermacam-macam benda lain, sehingga apabila tiba kepada bab jodoh, aku sudah keletihan, sudah kehabisan madah.

Tapi aku tidak pernah jemu, apatah lagi putus asa, meminta apa sahaja daripada Tuhan. Kalau tak minta daripada Dia, hei, kau nak mengharap daripada siapa? Malu memanglah malu, dan memang selayaknya hamba yang banyak dosa malu kepada Dia, tapi malu itu biarlah seperti malu sang dara tersipu-sipu, malu yang menabiri mahu, supaya tida/k nampak biadab melulu. Tidaklah ia malu yang menyebabkan kita menjadi pendosa angkuh, atau tanpa sedar, seolah-olah putus asa dengan rahmat Tuhan.. "tak perlulah aku minta, tak layak pun dapat, takkan Tuhan nak bagi"...oh hello, itu merajuk, itu sangka buruk, berani kau mengada-ngada kurang sopan begitu dengan Allah SWT?

Bukankah kita diajar supaya mendekati Tuhan dengan raja' (harap) dan khauf (takut) yang seiring-iring?

Dan aku yakin, Tuhan itu memang tempat, satu-satunya tempat, untuk hambaNya meminta-minta. Tiada yang lain. Maka mintalah apa sahaja, dan jaga adab-adabnya. Soal jodoh itu hanya sebahagian kecil daripada sejuta perkara yang diharap-harapkan oleh seorang hamba, dan apalah yang lebih diharapkan daripada roh yang pernah dikenalkan dengan syurga dan indahnya keakraban dengan PenciptaNya, daripada kembali ke pangkuanNya dengan ampun dan redha?

Esok aku kerja malam. Boleh tidur siang (walaupun aku rasa banyak benda lain yang lebih baik boleh aku buat daripada tidur). Rugi membazirkan hidup dengan tidur, kalau hidup baik-baik, lepas mati nanti boleh tidur puas-puas.

(tapi attitude macam itu kalau menyebabkan 'ter'tidur sambil buat discharge pesakit, atau terlelap sambil ambil history pesakit kerana tak larat tahan mengantuk... adalah mendatangkan mudarat.)

Oh, ada GSH aku lupa ambil. Alamak.


kutidurkan mimpi indah ini,
padaMu yang menggenggam takdir
padaMu yang menggenggam takdir
padaMu yang menggenggam takdir


04/04/2012

walaupun (kalau ini puisi, aku tujukan untuk pesakit-pesakitku yang diuji dengan HIV)

walaupun dia penagih dadah,
tubuhnya kurus kering
berkudis menggelupas
ada HIV
waktu dia keluar dari wad
(untuk menyambung rawatan di hospital lain)
dengan kerusi roda
dia lambai-lambai tangan kepada aku
dan tersenyum.

walaupun dia (bekas) penagih dadah
kurus kering
sebelah tangan lemah tak terangkat
cirit-birit tak henti-henti
oh, dia juga ada HIV
ada PCP dan juga TB
hari-hari lengannya aku tebuk, ambil macam-macam darah, cucuk nadi cari ABG
malam-malam, dia pasang bacaan Quran
anak dan isterinya ada meneman
dia larang anaknya main handphone kalau aku datang,
tak hormat doktor katanya
suatu malam, dia minta pertolongan
anaknya budak baik, pengawas sekolah
dimarah guru kerana lama tidak datang
tolonglah buat surat makluman, katakan dia tunggu bapanya yang sakit di hospital
setelah aku senyum dan janjikan usaha (belum janji menunaikan - aku tak tahu apa yang boleh aku lakukan)
dia turut senyum lega, dan beritahu isterinya bangga
"jangan risau, abang sudah beritahu doktor, dia akan tolong kita uruskan semua."

dalam surat makluman yang kutandatangan,
aku tulis semua penyakitnya
cirit-birit, lemah jantung, paru-paru berair...
tapi aku tak tulis HIV
aku tak mahu anak pintarnya jadi sasaran caci maki.

walaupun dia pernah menagih
bertahun-tahun dahulu, sudah berhenti, itu kenyataan daripada famili
(kerana sejak dia masuk hospital sampai mati, dia tak pernah sedarkan diri...)
keluarganya begitu ramai
datang berkeliling meneman
ketika aku masukkan long line di lengannya
ketika dia sawan tersentak-sentak
ketika darah meleleh dari tiub yang disambung ke perut
(esofagusnya dijangkiti kulat
petanda HIV yang sudah teruk melarat)
ketika aku terkial-kial menebuk perutnya untuk dialisis kecemasan
kalut mencari arteri untuk ABG segera
memujuk lengan kurusnya mencari pembuluh darah untuk branula
ketika aku diberitahu jururawat
tangannya sudah sejuk keras
ketika aku bertanya keluarga
mahu CPR atau tidak
ketika segala kaca monitor
tidak lagi memberi bacaan
ketika jantungnya diam
dan matanya padam

ketika aku memberitahu
"kakak, dia sudah tidak ada"
dan keluarganya menangis berpelukan
merintih sedih
namun sempat bersalaman denganku
merenung mataku
mengucapkan terima kasih

Tuhan...
Kau izinkan aku menjaganya
sampai dia pergi
sedang keluarganya memerhati
dan amat menghargai
walhal hatiku yang jahat
mungkin diam-diam
mengharap dia cepat mati
ampunkan aku Tuhan
terima amalanku Tuhan

walaupun mereka
pernah berbuat salah
menagih dadah
melanggan pelacur
ada HIV bersarang dalam tubuh
mungkin hidup
mungkin mati
mungkin mati dikelilingi keluarga
mungkin sesak nafas tiba-tiba
lalu terbujur kaku seorang diri
tiada siapa mengaku saudara

mereka semua
adalah manusia
punya jiwa
ada hati, air mata dan cinta
pernah jadi kanak-kanak
melihat dunia
dengan mata suci
sambil tertawa.

23/02/2012

survivors' reminiscence

After four months, finally I am joining the ranks of the survivors - those who had suffered the boot camp that is HRPZ II 's O&G, and made it alive, without major mental or physical injuries.

Alhamdulillah, I can never thank Allah enough.

When I looked back, I had actually experienced pretty much everything there is to experience in an O&G posting. The labour room, the O&G clinic, the wards, the triage where district health clinics send all sorts of weird referrals, the OT, and of course, the A&E - all bear witness to my learning moments, especially since emergencies have a way of happening when I am around.

I begun as a newbie who hardly knows anything about O&G. The last time I did any serious studying on the topic was sometime in 2009, when I did my O&G posting in Fairfield General Hospital and had my November OSCEs. On my first day in the department, I was a lost soul who couldn't even find the cervix during vaginal examinations, let alone comment on the dilation of the cervical os. I stayed positive - I will surely made it.

Nevertheless, the coming events quickly challenged my resolve. Like REALLY REALLY challenged it. Plain and square, I DID NOT KNOW WHAT TO DO.

I didn't know how to review patients and present them properly to seniors during rounds. I didn't know what plans to make for which patients. I was all thumbs when delivering babies. I got panicked when babies went flat and nurses were telling me to help resuscitate them. I was scolded by Paediatrics MOs when I made clumsy referrals.

When making notes and clerking patients I kept making so much mistakes that MOs got tired of nagging at me. I get insulted for being so helplessly lost while assisting in the operation theatre. Add to that, working long, long hours with little rest and little food makes my head buzz, my reactions go slow, and I got scolded more, which was a vicious cycle that is slowly getting at me. There was one occasion when I felt pushed to the brink and answered back, very emotionally, at an MO who was nagging at me - I assure you the outcome wasn't pretty.

I am not exaggerating. My early days in O&G was rather bad, and quite dark. My parents had to bear listening to my crying and telling them I couldn't do this, I wanted to run away and never come back.

Throughout life so far, I thought I am a fighter who never backs off, who holds on, and never runs away. The first few days in O&G taught me otherwise, and the realisation of my own fallibility is a very humbling experience.

I don't know where does the strength come from, for me to continue trudging on the path - between the labour room beds and the wards, and the operation theatre. Almost every time I went to work feeling apprehensive and scared, what kind of tribulation is awaiting me. What kind of patient will I encounter, what kind of disapproval will I get from my MOs today. What kind of insult to my self-esteem - almost nonexistent at times nowadays - will I receive on this particular work shift. Those questions play along almost every time I walked down the stairs of my quarters, crossed the main road and brought my feet along the corridors leading to the O&G department far, far at the other end of the hospital.

And as stories like this tend to go, of course, the strength comes from Allah SWT. Indeed, when human beings feel so helpless, so weak, with nobody - nobody at all to turn to, they will turn to Allah. They will turn to Allah with all their hearts, with all their hopes and fears, presented them before Allah, acknowledging their own wretched state and begging Allah to care for their affairs.

And of course, Allah listens and cares for their affairs, as He always does. The little tests are only proofs of His love - to remind wayward humans to come back to Him, to render our dependence on Him absolute, and to cleanse us of our sins.

Those darker days began to get further and further away, as I began to gain confidence and start to enjoy the profession. I have encountered critical patients having all sorts of emergencies, and (with the presence of my MO and specialists) know what to do, within my capacity as a house officer. The calls to the operation theatre no longer bring a chill down my back, only a twinge of annoyance at the amount of paperwork I have to do after the baby/tumour/cyst/whatever was out.

When in charge of wards, I feel happy walking through the door and immediately heading to the first bed, flipping through the notes and making my own. When being second call at nights, I feel comfortable let loose, on my own, taking care of four maternity wards from 1.30 pm today till 7 am tomorrow morning. I walk up and down the labour room, checking on patients, examining them as necessary, delivering babies if I need to - and resuscitating them if they don't cry or went blue, reviewing CTGs with all sorts of patterns - reassuring, suspicious, or plain ominous that send shivers to your neck, making referrals and writing letters to various departments... as if I had never been the panicked lost house officer on her first posting who simply doesn't know what to do.

Now I am good at things I thought I will never be able to do.

Of course, I still have a lot to learn. MOs still get pissed with me from time to time, and specialists still get unhappy when I answer their questions wrong/ present cases clumsily/jot down notes incorrectly. There are still times when I get "OMG what to do what to do I'm so dead"... and there are times when I just get so overwhelmed with piling jobs I wanted to cry.

But life is so much better now, and it only reminds me of how much love and care Allah has given me.

I thought of those patients having BP crises, eclamptic patients fitting before my eyes, the ominousness when my fingers feel the widely dilated os of a mother with big baby or footling breech who ABSOLUTELY must not undergo vaginal delivery, the cord pulsating under my fingers during prolapsed cord accident, the mother with pulmonary embolism who died before my eyes after frantic active resuscitation in the ICU...

I thought of the long corridors lit by yellowish lamps in the wee hours of morning, the dominion of the second call doctor who has to go back and forth between wards, sometimes trembling with exhaustion. I thought of the labour room, perpetually bright and alive with the drama of life's arrivals. Where exhausted doctors curled up on the sofa or on the glass desk, hoping to catch a few minutes' sleep, only to be woken by shouts of "Doctor, a premature patient in labour is arriving!" or "Doctor, there's a patient with PV bleed need to be attended stat!" or perhaps, "WHERE's the HO WHO'S SUPPOSED TO GO INTO THE OT NOW?! Patient's already on table!"

And where once, about six patients were waiting to be seen at the admissions area, five of whom were leaking liquor, it was two a.m. in the morning and I was the only doctor who must see them all, preferably before five a.m., then present them to my MO. I remember feeling so tired and overwhelmed but realising that if I don't see them, nobody else will, and as long as I'm not dead or collapsed, I must see every single one of them, clerk their notes properly, take all the samples, and send them off to the ward after my MO sees them later.

Most of the time, maybe that is the thought that ran through us doctors' minds when faced with piles of jobs that sometimes feel impossible to do - if we don't do this, nobody else will, so as long as we're not dead or collapsed, we must complete these jobs. Then when we finally finish, we go home relieved, to sink into our beds and get a few hours of sleep before starting the cycle again next day.

InsyaAllah I'm starting on Medical tomorrow morning.

May Allah keep me always.

17/01/2012

bayangan syurga

Tempoh hari aku hadir usrah di Pusat Islam HUSM. Usrah dijadualkan bermula jam dua setengah, sampai aku lewat jam empat. Kerja hari itu habis jam dua, dan aku harus kembali ke hospital selepas jam sepuluh malam. Duduk dalam halaqah, bersama Muslimah berwajah bersih berpakaian labuh, aku tersengguk- sengguk melawan kantuk mendengar bicara huraian kitab Fiqh Manhaji Imam Shafi'e.

Perhatianku sebenarnya leka beralih-alih kepada pucuk kelapa dibuai angin, langit biru bersih dan terang matahar yang nyaman, tersedia untuk dinikmati kami yang berlingkungan di beranda masjid.

Indahnya petang yang diciptakan Allah SWT. Kehidupan yang berjalan hari demi hari di bawah bumbung hospital, dalam kepungan dinding dewan bersalin yang diterangi lampu elektrik dan dinyamankan pendingin hawa 24 jam, atau dalam wad-wad yang tertutup dan sarat kalut, sampai aku terlupa tentang matahari yang riang, langit yang luas dan angin yang bebas.

Kadang-kadang, aku mengenang semula kehidupan zaman kanak-kanak. Ada halaman rumah yang lapang ayam itik dan angsa, langit tinggi terbuka, dan aku berlari- lari girang memanggil angin datang menerpa. Ada pokok jambu untuk dipanjat, kucing untuk dikejar, ada seribu satu cerita untuk diangankan dan dikarang dalam waktu senggang yang tidak berkesudahan.

Aku mengenang juga masa-masa manis sewaktu bergelar perantau di United Kingdom dahulu. Langit rendah seperti payung raksasa, sementara aku di bawahnya berlari-lari ke sana sini, turun naik kereta api kapal terbang dan feri, merayau-rayau ke toko buku mengenderai bas berjam-jam untuk pergi dan pulang hospital, lalu hujung minggunya dipenuhi oleh usrah dan aktiviti.

Tidak jarang juga, ketika bahang matahari Kelantan membakar dan aku terkebil- kebil kesilauan, wajahku terasa garing, datang kerinduan kepada cuaca di sana yang lebih mesra. Matahari lebih lembut, awannya lebih tebal Dan ya, di sana ada salji!

Mengapa hari ini, ketika ini, aku harus bekerja lelah berpuluh-puluh jam seminggu, sehingga kulit muka menjadi kusam pucat akibat pendingin hawa, mata cengkung tidak cukup rehat dan sendi-sendi lenguh berkejaran ke sana sini? Mengapa aku harus melayan bimbang dan stres mengenangkan penilaian kerjaya, dimarahi senior, pesakit kritikal yang tiba-tiba sawan ketika aku bertugas di tengah malam...

Mengapa aku harus menjadi doktor, yang ditempatkan pula di bahagian perbidanan dan sakit puan, yang terkenal dengan seniornya yang sering berleter, beban kerja yang dahsyat, dan kesukaran untuk lulus?

Mengapa aku bukan ahli farmasi, wartawan, atau guru? Mengapa aku bukan apa-apa sahaja, asal bukan pemegang karier yang gawat dan ruwet serupa ini?

Tuhan yang Maha Bijaksana, mengilhamkan untuk aku menemukan beberapa jawapan, di sebalik kenangan dan kerinduan ini.

Dia mengurniakan aku panas dan rimas dunia, supaya aku lebih rindu kepada dinginnya syurga.

Dia mengurniakan aku kalut dan keluh kesah kehidupan, supaya aku tahu menghargai kenyamanan dan ketenangan.

Dia mengurniakan aku penat dan lelah, supaya aku memahami mahalnya sebuah kerehatan.

Nyaman, tenang dan rehat sebenar, yang pastinya hanya ada selepas bergraduas daripada sekolah cabaran bernama dunia, yang perlahan-lahan sudah aku langkahi masuk ke peringkat seterusnya, selepas menyudahi alam persekolahan, universiti dan aktivisme mahasiswa.

Bijaksananya Tuhan tidak membiarkan aku hancur dan hanyut dalam keletihan namun diizinkanNya aku sesekali mengecap damai dan aman - ketika menghayun langkah pulang selepas hari kerja yang panjang, dan bulan mengambang penuh di langit ketika matahari petang tersenyum memayungi aku yang baru selesai bertugas semalaman penuh dan separuh hari sesudahnya, ketika keluargaku meluahkan kasih dan bangga akan amanah yang kini digalas anak gadis sulung mereka,

dan ketika aku diizinkan duduk berusrah di beranda masjid pada petang hari, sambil melihat pucuk kelapa hijau berkilau melenggok-lenggok dibuai angin sore berbau wangi.

Damai dan aman yang sesekali datang ini mengingatkan aku bahawa ada syurga yang maha bahagia dalam perjanjian Tuhan dengan hambaNya. Seperti umat Islam Andalus yang membina istana indah dengan taman dan air pancuran untuk mengingatkan mereka tentang gambaran syurga, begitulah kita di dunia ini, yang harus saja diingatkan terus kepada syurga, setiap kali melihat keindahan yang dipamerkan Allah SWT.

Kalaulah dunia ini yang tidak bererti apa-apa sudah begitu cantik dan menenangkan pada waktu-waktunya, apatah lagi syurga yang merupakan kemuncak anugerah buat hamba Tuhan yang berjaya?

Hidup yang pendek ini bukanlah untuk berehat-rehat. Kenikmatan yang diizinkan Allah, andai dilalaikan olehnya lalu hanyut dibuai keseronokan dan ketenangan dunia, maka mungkin hanya setakat itu sahaja indah yang layak buat kita. Mungkin tiada indah syurga yang menanti, kerana imbangan payah-mudah kita di dunia, tidak cukup untuk menghapuskan dosa, tidak padan untuk menambahkan pahala.

Seteruk mana pun kerja waktu oncall, akan habis juga, dan dapat pulang untuk tidur berpanjangan.

Selazat mana pun bersantai waktu cuti, akan tamat juga, dan esok perlu bangun awal untuk bekerja semula.

Lima tahun di luar negara berlalu dengan amat cepat.

Susah payah hidup, nanti akan selesai juga, dan selepas hayat berakhir, aku akan menoleh dan berasa bahawa sesungguhnya hayatku amat pendek dan sekejap.

Tuhan menjadikan zaman kanak-kanak yang indah dan manis buat kita, lalu ia berakhir dan kita menjadi dewasa, lalu dipertanggungjawabkan dengan seribu satu cubaan. Pantas kita berlari ke hadapan tersungkur rebah menangis namun terus terbongkok- bongkok mengutip redha Tuhan, dengan harapan dan sangka baik, agar sesudah sampai ke penghujung perjalanan, buku kehidupan ditutup, dan kita kembali semula kepada zaman yang indah dan manis, kali kali ini abadi tanpa kesudahan.

Sebelum tiba saat itu, bayangan-bayangan syurga yang diperlihatkanNya di dunia, adalah dugaan, dan motivasi buat kita. dunia, adalah dugaan, dan motivasi buat kita. motivasi buat kita.

Mohon wahai Allah, biar aku yang lemah kerdil lagi selalu lalai dan tewas ini, berjaya.

24/11/2011

kota bharu yang hujan

I

Pagi terakhir saya di Manchester, Madihah menuturkan hasrat yang cukup tulus, langsung meramas lagi hati saya yang sudah sedia luluh. Untuk pulang, harus juga pergi.

"Akak, Subuh ni jadi imam ye. I'd like to hear your recital for one last time."

Air mata sudah meleleh waktu saya mengimamkan solat Subuh pagi itu. Kali terakhir untuk solat berjemaah di bumi yang telah mentarbiyah saya selama lima tahun. Waktu membaca wirid al-Ma'thurat, saya tidak dapat menahan lagi sedu-sedan yang membuak, seperti dari empangan yang pecah.

Tuhan, bilakah lagi aku akan seperti ini, berada dalam saf menyembahMu dan mengagungkan namaMu, bersama sahabat-sahabat yang satu fikrah, satu perjuangan, satu hati, yang saling mengasihi atas nama Rabbi?



II

Kota Bharu kuyup disimbah hujan, yang luruhnya kian kerap, kian lebat. Seringkali saya mengharung lopak atau terjingkit-jingkit mengelak takung air di atas jalan. Satu dinihari hampir jam dua pagi, saya rempuh saja hujan lebat untuk pulang ke hostel, tanpa payung atau baju hujan, sampai basah lencun.

Hati dan jiwa juga basah lencun sekarang - bukan dengan 'iman dan roh perjuangan', tapi basah oleh hujan ribut perubahan. The winds of change bring with it rainstorm and occasionally, thunderclouds. Hingga sejuknya menusuk ke tulang, saya yang kehujanan menggigil keseorangan. Saya benar-benar keseorangan sekarang - makmum yang berdiri sendirian tanpa imam.

Adik-adik, kalau kakak culas menghubungi kalian, lalai membalas keluh cerita kalian, maafkan, maafkanlah.

Saya menyepi daripada berkongsi apa-apa nasihat atau nukilan tarbawi daripada hati, kerana tiap-tiap kali tergerak untuk memberi, saya berasa kosong, seperti selut lumpur yang tidak ditumbuhi tanaman, saya tidak ada apa-apa untuk diberikan.

Mana mungkin saya menghulur kata manis, menyusun hikmah, sedangkan saya sendiri terkapai-kapai mencari kekuatan di tempat baru yang rasanya begitu asing. Mana terdaya saya menjadi muzakkir yang menitipkan peringatan buat adik-adik dan teman-teman, sedangkan saya sendiri seolah-olah telah terlupa akan semua janji dan ikrar perjuangan?

Kuyup lencun jiwa ini dengan peluh dunia, meleleh menitik mengaburkan mata.



III

Alhamdulillah 'ala kulli haal. Segala puji buat Allah SWT atas segaka ketentuan dan kurniaanNya, sungguh Dia Maha Baik lagi Maha Bijaksana. Hamba yang jahil sering melupakan Dia, tetapi Dia, Maha Suci lagi Maha Tinggi, sentiasa mengurniakan rahmat dan pertolonganNya yang berlimpahan.

Memulakan hidup baru di tempat baru, sebagai manusia yang baru adalah sukar. Memang, saya merasakan bahawa diri ini sudah menjadi orang lain. Atau mungkinkah inilah saya yang sebenar, yang timbul ke permukaan setelah lepas bebas daripada rangkulan jemaah dan usrah di UK?

Allah mengizinkan manusia baru ini mempelajari bermacam-macam perkara baru. Dalam keadaan jahil tidak mengerti, seperti si buta teraba-raba dalam dewan bersalin, dewan bedah, dan wad-wad materniti, dileteri dan dimarahi, ketakutan kerana tidak cekap dalam skil-skil penting, keliru tidak faham kaedah pengurusan pesakit, sungguh saya diingatkan semula, bagaimana rasanya menjadi hamba Tuhan. Bagaimana rasanya bergantung penuh bimbang, harap dan pasrah kepada Tuhan. Bagaimana rasanya menjadi lemah, bodoh dan tidak pandai. Begitu saya disedarkan tentang kerdilnya diri saya, betapa tidak hebatnya saya, dan betapa perlunya saya kepada pertolongan.

Pertolongan yang berpunca daripada Allah, tetapi ada yang dihadiahkan melalui manusia lain. Manusia yang merupakan rakan-rakan sekerja saya. Alhamdulillah, rakan-rakan sekerja saya - baik para HO, MO, mahupun jururawat - adalah anugerah Allah untuk saya.

Saya tidak suka - sering berasa tidak perlu - bergantung kepada orang lain, terutamanya dalam bidang akademik dan profesional. Kebanyakan perkara saya pelajari sendiri dengan bantuan minimal daripada orang lain. Subhanallah, di O&G HRPZ2 ini, saya belajar indahnya apabila rakan-rakan, senior dan jururawat mengajar saya bermacam-macam perkara, indahnya berasa tidak pandai lalu diajar sehingga perlahan-lahan bertambah pandai.

Saya belajar rasa perlu kepada pertolongan orang lain. Saya belajar bagaimana kerja berpasukan. Saya belajar berkawan dengan rakan-rakan sekerja.

Satu kemahiran yang amat saya kurang - workplace social interaction. Mungkin kerana rasa janggal berkomunikasi dengan doktor dan jururawat British, mungkin kerana saya memang too much of a loner.

Di sini, Tuhan mengizinkan saya belajar dan menikmati, apa rasanya menjadi ahli sebuah 'keluarga kerja' yang saling membantu dan melengkapi.


IV

Baru-baru ini, saya menerima sebuah mesej yang menyapa saya dengan gelaran 'ukhti'. Ada amanah yang dipesan, ada tugas yang perlu ditunaikan.

Diri saya yang 'baru', diingatkan semula tentang dunianya yang lalu. Gelar 'ukhti' itu mengingatkannya akan siapa dirinya, apa yang telah ia lalui, sahabat-sahabatnya, ikrar janjinya, dan tentang mardhotillah yang perlu dicari bergalangkan jihad harta dan nyawa.

Saya seperti disapa angin, ditegur bulan. Masa transisi sudah panjang berlalu. Doakan saya kembali melangkah laju.

Adik-adik, teman-teman, anak-anak usrah, rakan-rakan seusrah, naqibah sekeluarga, ahli Sidratul Muntaha dulu dan sekarang, dan semua sahabat seperjuangan.

Saya rindu.

Dalam doa rabitah dan laungan doa wehdah antum, titipkan sedikit ingatan untuk ana di sini.